Destinasi Wisata Malang

Semarang - Malang perjalanan jauh yang begitu menyenangkan melewati jalur lurus di atas besi kuat yang menghubungkan antar kota. Di siang bolong dengan cuaca kira-kira 32 derajat celcius, Kereta Maharani dari Stasiun Poncol berangkat menuju Stasiun Malang melaju kencang dengan waktu tempuh 7 jam perjalanan.
Hawa dingin dengan dihiasi ramainya orang yang berada di terminal menyambut kami berdua, begitu puas rasanya tiba di Malang dengan selamat dan rasa gembira. Mobil jeep merah gagah yang menunggu untuk mengantar ke hotel  telah terpampang di depan terminal. Sepanjang perjalanan, Lia atau akrab dipanggil mbak Jandung sopir sekaligus teman akrab yang berasal dari Jepara banyak bercerita tentang destinasi wisata di Malang dan Gunung Bromo andalan tempat wisata yang direkomendasikan.
Hotel Ciptaningti bernuansa pedesaan yang berada di perbatasan kota batu Malang tempat peristirahatan kami selama 2 hari, murah dan mudah dijangkau karena bedekatan dengan fasilitas publik. Sejuknya pagi hari yang membangun semangat kami untuk segera mengunjungi tempat wisata di Malang, tak lupa kami menghubungi kawan lama yang sekarang kuliah di Malang untuk meminjam kendaraan.
Kamis 23 Februari, Museum Angkut adalah tempat wisata pertama yang kami kunjungi, tiket pembayaran 70 ribu saat weekday akan memanjakan mata anda dengan melihat transportasi-transportasi mulai dari yang kekunoan sampe kekinian. Spot foto, oleh-oleh khas, pemutaran film yang disuguhkan untuk parawisatawan. Belum puas akan wisata Museum Angkut, kami memutuskan pergi ke bukit paralayang yang berkisar 30 menit perjalanan. Mengandalkan google maps dan bertanya kepada warga akhirnya sampai di parkiran bukit paralayang.
Sepanjang jalan menuju bukit ada sebuah taman kecil dan restaurant kecil yang banyak dikerumuni anak-anak maupun remaja masa kini yaitu Taman Kelinci. Di area Taman Kelinci, kami mampir hanya sekedar menikmati masakan sate kelinci yang konon dagingnya sangat khas untuk dilahap. Kurang lebih 1 km menuju bukit paralayang ada ojek-ojek yang ngetem di pinggir jalan untuk menghantarkan para wisatawan naik menuju bukit. Pemandangan yang indah nan sejuk dari atas kota batu akan membuat anda betah tinggal di sana. Bagi para pecinta olahraga extrem bisa berolahraga paralayang hanya dengan membayar 350 ribu per orang. Tak lengkap bila ke bukit paralayang tidak mengunjungi omah kayu yang unik berada di atas pohon berjarak 100 meter dari bukit. Matahari pun semakin redup, kami memutuskan balik ke penginapan untuk mandi dan beristirahat. Tepat di hari Jumat sehabis solat jumat kami bergegas check out dari penginapan dan pergi ke kosan teman untuk menitipkan barang.
Gunung Bromo tempat wisata terakhir kami di kota Malang tercinta. Ditempuh berkisar 2 setengah jam perjalanan dari Malang menuju jalur Cemoro Lawang kami tiba di sana sore hari, tak lupa memilah-milih penginapan murah hanya untuk sekedar transit dan banyaknya para ojek yang menawarkan jasanya untuk menghantarkan ke berbagai destinasi wisata di Gunung Bromo. Kopi hitam pahit dan sebungkus rokok Marlboro menemani malam yang penuh gairah dengan mata yang tak mau memejam sedetikpun.
Pukul 4 dini hari, kami check out lalu bergegas pergi menuju penanjakan menggunakan sepeda motor karena jasa ojek yang ditawarkan cukup mahal. Dipenanjakan, Gunung Semeru yang gagah menjulang tinggi di atas awan terlihat kokoh, tidak kalah dengan piringan matahari yang indah memperlihatkan keistimewaannya. Jalur berliku yang mengarahakan ke padang pasir sangat berbahaya bagi joki motor amatir dan motor kurang normal. Ojek kuda yang berjajaran di padang pasir menawarkan jasa bagi para wisatawan untuk menuju kawah Gunung Bromo. 300 anak tangga telah di depan mata menyambut wisatawan untuk menikmati pemandangan kawah Gunung Bromo.
Sebelum perjalanan melalui jalur Tuntang, Bukit Telatubies yang imut nan lucu menghipnotis kami untuk mampir sekedar foto dan membeli bunga Edeilweis atau dikenal sebagai bunga abadi. Panas terik yang menyolomot kulit melalui jalur Tuntang, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju jalan Soekarno-Hatta yang berada di kawasan Universitas Brawijaya. Tiba dikos kami packing untuk persiapan pulang ke Semarang.
DOKUMENTASI
1. Museum Angkut

2. Gunung Bromo


Comments

Popular Posts